Saturday, November 17, 2007

Lelaki


Telah berdiri seorang lelaki
Hidup berbekal kecekalan diri
Walau menghadapi sejuta cabaran
Terus berpaut pada kebenaran

Berkurun sudah kau merintis jalan
Bertahun sudah hasratmu terhalang
Tetap bersemarak api keazamnya
Bara keramat doa dan harapan

Kau melangkah bermula dari lembah
Kau mendaki setangga ke setangga
Semakin hampir menjejaki puncak
Semakin sering kau ditikam onak

Namun kerana kau lelaki
Derita dapat diselindungi
Tangisanmu rahsia dihati

Kesepianlah teman nan sejati
Di dalamnya kau mengenal diri
Tenangnya wajah matangnya bicara
Kerana kau menyakini
Tuhanlah yang maha ESA
Kerana kau menyakini
Tuhanlah yang maha ESA

Tuesday, November 13, 2007

Kenyataan Hidup Sebenar

THOSE WHO WERE BORN IN THE 40's, 50's and 60's / early
'70s............

First, we survived with mothers who had no maids. They cooked /cleaned
while taking care of us at the same time.

They took aspirin, candies floss, fizzy drinks, shaved ice with syrups
and diabetes were rare. Salt added to Pepsi or Coke was remedy for
fever.

We had no childproof lids on medicine bottles, doors or cabinets and
when we rode our bikes, we had no helmets.

As children, we would ride with our parents on bicycles/ motorcycles
for 2 or 3. The richer in car with no seat belts or air bags.

Riding in the back of a private taxi was a special treat.

We drank water from the tap and NOT from a bottle.

We would spend hours on the fields under bright sunlight flying our
kites, without worrying about the UV ray which never seem to affect
us.

We go to jungle to catch spiders without worries of Aedes mosquitoes.

With mere 5 pebbles (stones) would be a endless game. With a ball
(tennis ball best) we boys would run like crazy for hours.

We catch guppy in drains / canals and when it rain we swim there.

We shared one soft drink with four friends, from one bottle and NO ONE
actually worry about being unhygienic

We ate salty, very sweet & oily food, candies, bread and real butter
and drank very sweet soft sweet coffee/ tea, ice kacang, but we
weren't overweight because......

WE WERE ALWAYS OUTSIDE PLAYING!!

We would leave home in the morning and play all day, till streetlights
came on.

No one was able to reach us all day. And we were O.K.

We would spend hours repairing our old bicycles and wooden scooters
out of scraps and then ride down the hill, only to find out we forgot
the brakes. After running into the bushes a few times, we learned to
solve the problems.

We did not have Play stations, Nintendo's, X-boxes, multiple channels
on cable TV, DVD movies, no surround sound, no phones, no personal
computers and no internet. But WE STILL HAD FRIENDS and we went outside and found them!

We fell out of trees, got cut, broke bones and teeth and we still
continued the stunts.

We were never given birthday parties till we were 21,

We rode bikes or walked to a friend's house and just yelled for them!

The idea of a parent bailing us out if we broke the law was unheard
of. They actually sided with the law! In fact, we never came back and
told we were caned at school lest we get a second dose at home.

Yet this generation has produced some of the best risk-takers,
problem solvers and inventors ever!

The past 40 years have been an explosion of innovation and new ideas.

We had freedom, failure, success and responsibility, and we learned
HOW TO DEAL WITH IT ALL!

And AYAH is one of them!


Monday, November 12, 2007

Alhamdulillah


Alhamdulillah

Disaat waktu berhenti

Kosong …………..

Dimensi membutakan mata, memekakkan telinga

Lalu diri menjadi hampa

Saat paradigma dunia

Tak lagi digunakan untuk menerka

Sedar ku akan hadir mu

Mematahkan sendi-sendi yang biasanya tegak berdiri.

Sujud ku pun takkan memuaskan

Ingin ku untuk hambur sembah sedalam kalbu

Ada pun sembahkan syukur

Pada Mu Ya Allah

Untuk nama, harta dan keluarga yang mencinta

Dan perjalanan yang sejauh ini tertempa.

Alhamdulillah, pada rahmat kesempatan

Yang membuat hamba mengerti lebih baik

Tentang makna diri.

Semuanyakan lebih bererti jika dihayati

Alhamdulillah ….. Alhamdulillah ….. Alhamdulillah.

Saturday, November 3, 2007

Duhai Angin


Duhai Angin

Berhembus angin malam
Sepoi mu tidak lagi terasa
Bahana bahang panas yang kau bawa
Membawa cerita duka lara
Keganasan manusia terhadap manusia
Sengketa berterusan sesama kita
Manusia sejagat seluruh dunia

Duhai angin
Hembuskanlah salam persahabatan
Bawalah bersama mu debunga kedamaian
Bayu mu .....
Sejukkanlah hati-hati yang sedang rawan
Tiuplah dan padamkanlah api pertelingkahan
Khabarkan kepada mereka
Ada bahagia di sini
Kedamaianlah yang lebih bererti
Sebarkanlah keserata ceruk dunia
Kemarilah, marilah, mari......

Koleksi Pantun Ciptaan Ku

Sekuntum bunga indah di taman,
Mekar mewangi seluruh desa,
Sudah dimiliki si jelita rupawan,
Kenapa hidup tidak bahagia?

Berlari laju sekumpulan haiwan,
Ketua kawanan seokor jantan,
Walaupun wajah jelita rupawan,
Sayangnya akhlak macam syaitan.

Niur gading puncak mahligai
Sayang Serawak irama asli
Kasih sayang sukar dinilai
Kerana terletak di dalam hati

Angan aku angan tak sudah
Setiap hari termenung termanggu
Kekasih hati terlepas sudah
Tinggallah menangis tidak berlagu


Friday, November 2, 2007

Mencintai mu

Mencintaimu...
Seumur hidupku
Selamanya...
Setia menanti
Walau di hati saja...
Seluruh hidupku
Selamanya...
Kau tetap milikku

Hanya satu yang tak mungkin kembali
Hanya satu yang tak pernah terjadi
Sgalanya...
Teramat berarti di hatiku
Selamanya...

Mencintaimu...
Seumur hidupku
Selamanya...
Kau tetap milikku



Thursday, November 1, 2007

Dealova


Aku ingin menjadi mimpi indah
Dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu
Yang mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh
Tanpa dirimu
Oh... Karena hati telah letih
Aku ingin menjadi sesuatu
Yang selalu bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu bahawa aku
Selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu
Merantai hati
Oh... Bayangmu seakan-akan
Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang
Memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada
Oh...
Hanya dirimu
Yang bisa membuatku tenang
Tanpa dirimu
Aku merasa hilang... dan sepi
Dan sepi...
Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang
Memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada
Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang
Memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada
Selalu ada...
Kau selalu ada...
Selalu ada...
Kau selalu ada...